BullrunIndonesia
Strategi Investasi

Menyusun Portofolio Saham: Berapa Banyak Saham dan Kapan Rebalancing

·Tim Riset Bullrun

Diversifikasi bukan sekadar memiliki banyak saham. Pelajari cara menentukan jumlah posisi, menghindari diversifikasi semu, dan menjalankan rebalancing.

Pertanyaan yang paling sering muncul dari investor pemula setelah membeli saham pertamanya adalah: berapa banyak saham yang sebaiknya saya miliki? Jawaban yang beredar biasanya ekstrem, entah jangan lebih dari lima agar fokus, atau sebanyak mungkin agar aman. Keduanya melewatkan inti persoalannya, yaitu bahwa diversifikasi bukan soal jumlah, melainkan soal seberapa berbeda risiko yang Anda tanggung.

Dua Jenis Risiko yang Perlu Dibedakan

Dalam teori portofolio, risiko dipilah menjadi dua. Risiko spesifik melekat pada satu perusahaan: pabriknya terbakar, direksinya bermasalah, satu kontrak besar hilang. Risiko pasar melekat pada sistem secara keseluruhan: suku bunga naik, resesi global, gejolak nilai tukar.

Diversifikasi hanya bisa memangkas risiko jenis pertama. Berapa pun banyaknya saham yang Anda miliki, ketika seluruh pasar jatuh, portofolio Anda akan ikut turun. Memahami batas ini penting agar Anda tidak salah berharap. Investor yang mengira punya dua puluh saham berarti kebal terhadap koreksi pasar akan sangat terkejut pada koreksi pertama yang ia alami.

Titik Diminishing Return

Manfaat penambahan saham menurun sangat cepat. Melompat dari satu saham ke lima saham memangkas risiko spesifik secara dramatis. Dari lima ke lima belas masih memberi perbaikan yang berarti. Dari lima belas ke lima puluh, tambahannya sangat kecil, sementara biaya pemantauannya melonjak. Untuk investor ritel yang mengelola sendiri portofolionya sambil bekerja penuh waktu, kisaran delapan sampai lima belas saham umumnya menjadi keseimbangan yang masuk akal antara penyebaran risiko dan kemampuan memantau.

Yang lebih berbahaya daripada kekurangan saham adalah apa yang bisa disebut diworsification, yaitu menambah posisi hanya demi merasa aman, pada perusahaan yang tidak pernah Anda teliti. Portofolio berisi tiga puluh saham yang tidak Anda pahami satu pun bukan portofolio terdiversifikasi, melainkan kumpulan tebakan.

Diversifikasi Semu: Bahaya Korelasi

Kesalahan yang jauh lebih halus adalah memiliki banyak saham yang sebenarnya bergerak karena faktor pendorong yang sama. Memiliki lima bank besar sekaligus terasa seperti diversifikasi karena kodenya berbeda, padahal kelimanya sensitif terhadap variabel yang serupa: suku bunga acuan, kualitas kredit, dan pertumbuhan ekonomi domestik. Begitu pula memiliki beberapa emiten batu bara sekaligus, yang pada dasarnya adalah satu taruhan besar pada harga komoditas.

Beberapa dimensi penyebaran yang layak dipertimbangkan:

  • Sektor. Sebarkan ke sektor dengan pendorong laba yang berbeda, misalnya konsumsi, kesehatan, infrastruktur, perbankan, dan telekomunikasi.
  • Sumber pendapatan. Perusahaan yang pendapatannya dalam mata uang asing bereaksi berbeda terhadap pelemahan rupiah dibanding perusahaan yang seluruh pasarnya domestik.
  • Karakter siklus. Campurkan bisnis defensif yang permintaannya relatif stabil dengan bisnis siklikal yang labanya berayun mengikuti ekonomi.
  • Kelas aset. Saham bukan satu-satunya. Obligasi negara ritel, deposito, dan emas punya perilaku berbeda saat pasar saham tertekan.

Menentukan Bobot Setiap Posisi

Ada beberapa pendekatan yang wajar. Bobot setara membagi rata modal ke setiap posisi, misalnya sepuluh saham masing-masing 10 persen. Sederhana, transparan, dan menghindarkan Anda dari terlalu percaya diri pada satu ide.

Bobot berbasis keyakinan memberi porsi lebih besar pada ide yang paling Anda pahami. Pendekatan ini bisa menghasilkan return lebih tinggi, tetapi hanya jika keyakinan Anda benar-benar berbasis analisis, bukan sekadar rasa suka. Apapun pendekatannya, terapkan batas atas per posisi, misalnya tidak lebih dari 15 sampai 20 persen dari total portofolio untuk satu saham. Batas ini melindungi Anda dari kesalahan tunggal yang fatal.

Perlu diingat juga bahwa bobot berubah dengan sendirinya. Posisi yang naik dua kali lipat akan otomatis menjadi bagian yang jauh lebih besar dari portofolio Anda, dan bersamaan dengan itu, konsentrasi risiko Anda meningkat tanpa Anda pernah memutuskan apa-apa.

Rebalancing: Mengembalikan Portofolio ke Rencana

Rebalancing adalah proses menyesuaikan kembali bobot portofolio ke target semula, dengan mengurangi yang sudah kelebihan bobot dan menambah yang kekurangan. Fungsinya bukan memaksimalkan return, melainkan menjaga tingkat risiko tetap sesuai rencana.

Dua metode yang umum:

  • Berbasis kalender. Tinjau dan sesuaikan pada interval tetap, misalnya setiap enam atau dua belas bulan. Mudah dijalankan dan tidak menggoda Anda untuk sering-sering mengutak-atik.
  • Berbasis ambang batas. Lakukan penyesuaian hanya ketika bobot suatu posisi menyimpang lebih dari, misalnya, 5 poin persentase dari targetnya. Lebih responsif, tetapi menuntut pemantauan lebih rutin.

Ilustrasi sederhana: Anda menargetkan 70 persen saham dan 30 persen obligasi. Setelah setahun pasar saham menguat, komposisinya menjadi 80 dan 20. Rebalancing berarti menjual sebagian saham dan memindahkannya ke obligasi hingga kembali ke 70 dan 30. Secara emosional ini terasa salah karena Anda menjual yang sedang naik dan membeli yang tertinggal. Justru itulah gunanya: prosesnya memaksa Anda melakukan hal yang benar ketika naluri menyuruh sebaliknya.

Biaya dan Pajak

Rebalancing bukan tanpa ongkos. Setiap penjualan dikenai komisi dan pajak penghasilan final atas nilai transaksi jual. Karena itu jangan melakukannya terlalu sering. Bagi banyak investor, penyesuaian sekali setahun sudah memadai. Cara yang lebih hemat biaya adalah melakukan rebalancing lewat dana baru: arahkan setoran bulanan Anda ke posisi yang bobotnya sedang di bawah target, sehingga penyeimbangan terjadi tanpa perlu menjual apa pun.

Penutup

Portofolio yang baik bukan yang berisi saham paling banyak atau paling sedikit, melainkan yang risikonya Anda pahami dan bobotnya Anda kendalikan. Tentukan jumlah posisi yang benar-benar sanggup Anda pantau, sebarkan pada pendorong risiko yang berbeda, batasi ukuran maksimum setiap posisi, dan jadwalkan peninjauan berkala. Sebagian besar kerugian besar investor ritel bukan datang dari salah memilih saham, melainkan dari terlalu besar memegang satu saham yang salah.

Bagikan artikel ini